Pendukung Akhi Adian Husaini, M.A

Icon

Jangan Berhalakan Multikulturalisme!

Hasil Pemilu 2009

Sudah lama blog ini tidak ana update. Kesibukan berdakwah membuat ana tidak bisa ngendon lama di depan komputer. Tapi ada perkembangan menarik dari hasil Pemilu 2009 kemarin:

PKS ADALAH SATU-SATUNYA PARTAI YANG SELAMAT DARI TSUNAMI DEMOKRAT.

Ya, Partai Demokrat di luar dugaan mendapatkan lebih dari 20% suara, sementara Golkar dan PDIP turun antara 8-4%. Partai lainnya, PKB turun 5%, PAN 1%, PPP 2%.

Hanya partai dakwah PKS yang bisa naik 1% dari 2004. Subhanallah!

Saat ini PD sedang mencari-cari pasangan koalisi. Yang sudah disebut: PKS, PKB dan mungkin Golkar.

Ustad Anis Matta sudah menyebut kalau PKS akan menolak kalau koalisi ini akan melibatkan Golkar. Ana setuju! Untuk apa berkoalisi dengan Golkar yang isinya penuh koruptor?

Sebenarnya ana sendiri juga mempertanyakan buat apa berkoalisi, kalau pemerintahan SBY kemarin, yang PKS ikut, juga banyak korupsinya. Dakwah seharusnya amar makruf nahi munkar, menyeru kebaikan dan menghidari keburukan. Ikut dalam koalisi untuk partai yang berkuasa hanya akan menyebabkan PKS ikut tercemar dalam lembah korupsi. Jauh lebih mulia kalau PKS terus menyeru kebaikan dengan berada di luar. Sudah terbukti menjadi penguasa hanya mendorong keburukan.

Dimana prestasi Ustad Nurmahmudi di Depok? Selain hanya kampanye pakai baliho makan pakai tangan kanan. Dimana prestasi ustad-ustad PKS yang menguasai DPRD Jakarta, kecuali hanya membela Budha Bar dan membiarkan korupsi merajalela saja? Jangan-jangan mengucapkan alhamdulillah ketika terima fulus?

Posted by Wordmobi
03032009004.jpg

Filed under: Adian Husaini

Mangkunegara IV: Calon Penerima PKS dan Poligami Award 2008

Voyager record

Voyager record

Afwan jiddan…

Ana ingin mengusulkan calon penerima PKS Award 2008 kepada para qiyadah PKS, yaitu almarhum Mangkunegoro IV dari Pura Mangkunegara Surakarta.

Mengapa?

Seperti kita tahu, tahun 2006-2007 diwarnai dengan kontroversi seputar poligami. Abu Aa Gym, panutan kita semua, melaksanakan sunah nabi untuk berpoligami. Kita tahu bahwa Aa Gym sealu terjaga hatinya, berkat nasyidnya yang ngetop, Jagalah Hati. Nasyid ini adalah salah satu kesayangan ana.

Sayangnya banyak masyarakat yang tidak terjaga hatinya, dengan memboikot Aa Gym, memboikot Darut Tauhid dan akhirnya Aa Gym sekarang lebih banyak bercengkerama dengan istri-istrinya. Tentu dengan mengenakan sarung yang selalu siap untuk sholat maupun bentuk ibadah lainnya yang pasti lebih nikmat….

Kita tahu kalau para qiyadah PKS, seperti abu Tifatul Sembiring, abu Anis Matta dan masih banyak aktivis dakwah lainnya mencoba untuk meluaskan medan dakwah melalui poligami. Bahkan ana dengar abu Anis Matta mempunyai 3 istri. Subhannallah… karena berarti medan dakwahnya berlipat tiga. Kader dakwah juga berlipat tiga.

Karena PKS mencanangkan agar mencapai suara 20% pada Pemilu 2009, maka kita harus memperbaiki citra poligami.

Nah, untuk itu, mari kita lihat mengapa almukarrom Sri Paduka Mangkunegoro IV layak untuk mendapatkan PKS award 2008:

  • Beliau mempunyai istri dan selir yang banyak. Sampai ana tidak bisa menghitung karena banyaknya
  • Dan yang lebih penting, beliau adalah orang yang sangat terhormat, karena karyanya, gending Puspawarna terpilih sebagai salah satu bukti peradaban umat manusia Bumi dalam Voyager Golden Record yang dikirimkan melalui Voyager 1 .

Puspawarna, artinya beragam bunga, merupakan komposisi gamelan yang indah http://en.wikipedia.org/wiki/Puspawarna Judul lengkapnya adalah Ketawang Puspawarna Laras Slendro Pathet Manyura .

Menurut situs wikipedia kesayangan ana, gending ini diciptakan untuk mengingatkan akan istri dan selir-selir beliau.

Kita tentu bangga bahwa gending ini setara dengan komposisi Bach, Beethoven dan Mozart. Bahkan menjadi salah satu kesayangan Carl Sagar, astronom kafir tetapi sangat terkenal itu.

Dengan dianugerahkannya PKS award kepada Sri Paduka Mangkunegara IV, maka akan mengangkat kembali citra poligami yang rusak gara-gara masyarakat salah menyangka Aa Gym, dan juga dari pengkhianatan buku ust. Cahyadi Takariawan.

Jadi, inilah satu-satunya anak bangsa yang mampu berdiri sejajar dengan Bach, Mozart dan Beethoven, dengan gending untuk melambangkan kasing sayang poligami kepada istri dan selirnya.

Filed under: Adian Husaini , , , ,

Tragedi Keilmuan di UIN Jakarta

krjasama dubes amerika kafir dengan rekntor para SEPILIS

Sekali lagi, tahniah buat akhi Adian Husaini, M.A, kandidat doktor di ISTAC Malaysia yang berhasil mengupas tuntas tragedi keilmuan di UIN Jakarta karena menganugerahkan gelar doktor ke aktivis SEPILIS Abdul Moqsith Gozali.

Tanggapan lengkap akhi Adian ada di http://adianhusaini.blogspot.com/2008/02/tragedi-keilmuan-di-uin-jakarta.html

Akhi Adian secara jenial berhasil membuka kedok UIN, institusi Islam yang berusaha menghancurkan Islam dari dalam, mengaku mengajarkan Islam, tetapi yang diajarkan adalah dekonstruksi syariah, fikih, dll, seperti halnya tukang batu mendekonstruksi bangunan tua untuk dibangun mall.

Akhi Adian menyimpulkan bahwa para guru besar UIN Jakarta telah lalai meloloskan Abdul Moqsith dalam sidang terbuka promosi doktornya:

Yang jelas, menurut saya, kasus disertasi ini merupakan suatu ”Tragedi Keilmuan” di UIN Jakarta. Apa yang bathil, sesat, dan keliru, dilegitimasi oleh sejumlah guru besar bidang agama. Lebih merupakan tragedi dan musibah lagi bagi umat ini, jika para doktor dan pakar-pakar Al-Quran yang berjubel di UIN Jakarta hanya berdiam diri dan ”bengong saja” menghadapi kasus semacam ini.

Ana hanya ingin mengangkat satu tulisan dari Farish Noor, orang Malaysia yang mengajar di UIN Yogyakarta, saudara kembar ideologi SEPILIS UIN Jakarta. http://www.othermalaysia.org/content/view/79/53/

Ana sebagai orang yang mengagumi akhi Adian yang sedang mengejar doktor di ISTAC Malaysia , tentu tidak terima kalau Farish Noor bilang UIN di Indonesia kualitasnya lebih baik dari universitas di Malaysia. Kalau memang kualitasnya lebih baik, buat apa akhi Adian sekolah ke Malaysia, ke Ciputat atau Yogya saja!

Farish Noor bilang dia kagum dengan mahasiswa UIN yang mampu mengkaji fenomena relijiusitas dengan teori-teori kafir Barat, bahkan menafsirkan kitab suci kita seenaknya diri dengan metode hermeneutika.

Farish Noor bilang lagi kalau yang bikin dia tambah kagum, mereka ini, mahasiswa UIN, adalah practising muslim, orang-orang yang teguh beriman, tapi tetap menjaga kekritisannya yang katanya “rational, modernist, pragmatic”.

ANA TIDAK TERIMA!!!

Apalagi Farish Noor terus menerus memuji Amin Abdullah, yang katanya adalah pembaru pendidikan tinggi Islam di Indonesia, sehingga UINs is not in the same lague with their Malaysian, Pakistani, Arabs, counterparts.

Masak UIN dibilang lebih baik dari Malaysia!!!

Jadi, Ana kembali menghimbau kalau ada ikhwan dan akhwat mau sekolah lagi, jangan ke UIN! Kalau ke UIN, belajarnya tidak beda jauh dengan belajar di UGM, UI, dll.

Lebih baik kita ekspor mahasiswa kita ke Malaysia, tidak hanya TKI!

Filed under: Adian Husaini , , , , ,

Jangan Memfitnah Buya HAMKA

Daripada dekonstruksi melulu, lebih baik konstruksi rumah!

markas Sepilis

 

Alhamdulliah. Akhi Adian Husaini, M.A kembali melakkan advokasi terhadap kegiatan penggiat SEPILIS (Sekularis, Pluralis, Liberalis), yang membuat tulisan dengan melakukan kuotasi yang sembarangan terhadap Buya Hamka, sastrawan dan ulama besar, serta mantan ketua MUI.

 

 

Dalam tulisannya yang berjudul “Jangan Memfitnah Buya HAMKA” http://adianhusaini.blogspot.com/2008/01/jangan-menfitnah-buya-hamka.html , akhi Adian Husaini dengan cerdas menguliti beberapa pendapat kaum SEPILIS yang patut diduga menderita SIPILIS. Dengan bekas gunting sunatnya, drh. Adian Husaini, M.A tentu dengan sigap akan menyunat para SEPILIS yang SIPILIS ini.

 

 

Beberapa pokok pikiran yang digugat oleh akhi Adian adalah:

  • Tulisan “Mengapa Membumikan Kemajemukan dan Kebebasan Beragama di Indonesia?” dari Muhammad Ali, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta dan kandidat doktor di Hawaii. Ali menulis: ”Al-Qur’an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan. Dalam konsep al-Qur’an, penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak, Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama mereka adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan, selain Yahudi dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut keberagamaan yang benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan. Tuhan menurunkan ratusan ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diceritakan siapa mereka. Karenanya tidak ada alasan untuk mengafirkan dan mengutuk masuk neraka Konfusianisme, Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi al-Quran juga menjelaskan, tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan dan perselisihan antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja.” (hal. 256).
  • Tulisan”Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”, ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang alumnus Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris. Tulisannya berisi: ”Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis ”Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini [...]. Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur’an. Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern.” Lebih jauh Buya Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah tentang agama mana yang paling benar dari semua agama yang pernah dimasuki olehnya: Majusi, Nasrani, dan Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62 tersebut.” (hal. 306-307). Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85. ”Buya Hamka menyatakan: ”Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan (dihapus) oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk dia saja [...].

 

Seperti biasa, ana taqlid dengan pendapat akhiAdian Husaini, kandidat doktor di ISTAC Malaysia.

 

 

Btw, beberapa saat yang lalu ana membaca sebuah tulisan busuk dari seorang profesor tamu dari Malaysia di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Seperti kita sudah mahfum, UIN Yogyakarta bersama UIN Jakarta adalah markas besar kaum SEPILIS.

 

Si profesor yang tidak tahu diuntung itu, Farish Noor, bilang bahwa kualitas UIN/IAIN di Indonesia bahkan sudah melampaui kualitas dan tradisi akademis di Malaysia, Pakista, Mesir, dsb. Alasannya UIN/IAIN menggunakan tradisi akademis Barat, dengna mengunyah teori-teori sosial Barat, sekuler dan kafir untuk menerangkan fenomena keberagaman di Indonesia. Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta yang diwawancarainya bilang bahwa UIN tidak hanya mengajarkan norma, tetapi juga pengamalan. UIN tidak hanya mengajarkan menghapalkan ayat, tetapi juga menafsirkan ayat dengan teori sosial modern. UIN membedakan antara mengajarkan agama, tetapi juga meneliti fenomena keberagamaan.

 

Sungguh sesat orang-orang UIN. Kebenaran sudah tidak perlu diteliti lagi. Laksanakan saja, tanpa banyak cingcong.

 

 

Ana ingat tulisan abu Hartono Ahmad Jaiz yang menunjukkan secara detil tentang kesesatan berpikir di UIN dalam bukunya yang sangat terkenal “Ada Pemurtadan di IAIN”. Abu Hartono dengan pandai memperlihatkan kita bahwa sebagai kampus universitas agama Islam, seharusnya UIN/IAIN memberikan pelajaran bagaimana menjadi modin yang baik, shalawat yang merdu, tartil yang membuai, memakai hijab yang tidak menimbulkan gairah bagi ikhwan, serta berpoligami secara adil.

 

 

Alih-alih IAIN/UIN malah mengajarkan berpikir bebas, free will a la Mu’tazilah yang diimpor oleh mantan Rektor IAIN Jakarta Prof. Harun Nasution, tafsir model baru yang menyalahi metode tafsir yang sudah berada-abad kita gunakan, dsb.

 

 

Apalagi UIN Yogyakarta adalah kampus yang melahirkan para dekonstruktor agama, yang suka sekali berbicara: DEKONSTRUKSI SYARIAH, DEKONSTRUKSI FIKIH, dsb. Pantasnya mahasiswanya jadi tukang batu saja, melakukan dekonstruksi bangunan tua supaya dibangun mall yang jualan kopi Starbucks milik Yahudi Kafir!.

 

 

Sebagai penutup, ana minta kepada antum untuk berhati-hati terhadap segala macam fitnahan dari kaum SEPILIS kepada umat Islam. Bubarkan IAIN/UIN yang suka dekonstruksi. Bangun Institut Konstruksi dan Tukang Batu supaya mahasiswanya tidak hanya bicara dekonstruksi saja!

Filed under: Adian Husaini , , , , ,

Jangan Memberhalakan Multikulturalisme

inilah dekadensi moral akibat multikultalisme

akibat multikulturalisme

Jangan Memberhalakan Multikulturalisme

Syukron jazakalla, Ana sangat mendukung tulisan akhi Adian Husaini, M.A, dalam tulisannya di http://adianhusaini.blogspot.com/2008/01/jangan-memberhalakan-multikulturalisme.html

Akhi Adian Husaini memang anak muda Islam yang cemerlang, yang mampu menangkis berbagai serangan kaum SEPILIS (Sekuler, Pluralis, Liberalis) yang biasanya dibungkus oleh tulisan-tulisan ilmiah.

Kita tentu bersyukur bahwa akhi Adian Husaini yang juga kandidat doktor di ISTAC Universitas Islam Internasional Malaysia mampu menandingi propaganda kaum SEPILIS yang banyak berpendidikan barat. Akhi Adian yang dokter hewan, tentu sangat paham dengan penyakit SIPILS yang bersaudara dengan SEPILIS. Kalau Uli sang panglima SEPILS pulang ke Indonesia setelah sekolah di universitas sekuler dibiayai duitnya Bush ngedebush, maka akhi Adian tentu akan menyiapkan gunting sunat kucing yang biasa dipakainya mengebiri kucing yang suka kawin seenaknya, bikin anak disana-sini tanpa mempedulikan istrinya yang sah di rumah. Kucing-kucing harusnya diberi pelajaran poligami oleh akhi almukarrom Puspo Wardoyo, bagaimana melakukan poligami yang sesuai syariat.

Kita tidak perlu kecil hati dan merasa rendah diri dengan pendidikan kita. Pendidikan di Malaysia, seperti halnya akhi Adian Husaini, Pakistan, Mesir, apalagi Universitas Al Azhar yang merupakan salah satu universitas tertua di dunia, tidak kalah dengan produk keluaran McGill University dan universitas di barat lainnya yang banyak menelurkan penggiat SEPILIS.

Apalagi dengan universitas di Ankara, Turki, sekolahnya Amin Abdullah, rektor UIN (Universitas Inkarus Nabi) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Amin Abdullah lah yang bertanggung jawab atas penyebaran metode tafsir hermeneutika di IAIN/UIN seluruh Indonesia. Masak kitab suci kita disamakan dengan buku sastra!

Karena itu, Ana ingin membahas beberapa pokok pikiran akhi Adian Husaini dalam tulisannya “Jangan Memberhalakan Multikulturalisme”.

Akhi Adian menulis:

  • Badan Litbang Departemen Agama mengumumkan hasil penelitiannya tentang “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural Para Da’i”. Balitbang Depag, Atho Mudzhar, menyatakan bahwa selain dapat menjadi faktor integrasi, agama juga dapat menjadi faktor dis-integrasi. Agama sebagai faktor disintegrasi bangsa Indonesia, dapat dilihat pada terjadinya konflik keagamaan – bahkan sampai saat ini – di beberapa daerah di Indonesia
  • Mereka memakai berbagai ukuran yang aneh untuk mengukur multikulturalisme, seperti percaya bahwa ada agama lain yang merupakan agama samawi dan meyakini bahwa Yahudi dan Kristen sekarang ini adalah ahlul kitab, perasaan kurang nyaman bertetangga dengan orang yang berbeda agama, perlunya UU Penyiaran Agama untuk mengurangi konflik antar umat beragama, penerimaan terhadap perkawinan berbeda agama, penerimaan terhadap orang yang berbeda agama untuk mengajar anak di sekolah, penerimaan terhadap orang yang berbeda agama dalam melakukan kegiatan di daerah Muslim,) penerimaan terhadap orang yang berbeda agama untuk membangun rumah ibadah di daerah Muslim.
  • Sebagai penutup, akhi Adian Husaini menyimpulkan bahwa seyogyanya para peneliti tidak terburu-buru menerima begitu saja paham-paham baru – seperti Multikulturalisme – tanpa menilainya dengan standar pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Menyimak indikator-indikator yang digunakan untuk meneliti tingkat ”kemultikulturalan” seorang dai, tampak jelas, paham ini memang justru bermasalah. Jadi, semestinya Islam-lah yang menilai paham Multikulturalisme. Bukan sebaliknya, Islam dan kaum Muslim justru dinilai dengan kacamata Multikulturalisme. Wallahu a’lam.

Ana setuju, taqlid 100% pada pendapat akhi Adian Husaini. Bagiamanapun Departemen Agama sekarang dipenuhi oleh birokrat-birokrat jebolah IAIN (Ingkar Allah Ingkar Nabi). Mereka seharusnya belajar agama, tetapi akhirnya menguliti agama dengan berbagai teori-teori sosial dari Barat, yang diciptakan oleh non muslim, orientalis Yahudi dan Kristen. Ini menunjukkan bahwa Depag yang seharusnya menjadi patron umat Islam dalam melaksanakan kehidupan beragama malah menjadi korban GHAZWUL FIKR, perang pemikiran atau ideologi dari Barat.

Tidakkah para peneliti Depag ini melihat bahwa penghormatan terhadap multikulturalisme di Barat ini menyebabkan dekadensi moral mereka? Tobatlah wahai birokrat Depag!

Para dai tidaklah layak untuk diteliti tingkat multikulturalisme mereka. Seharusnya yang diteliti adalah bagaimana pandangan mereka terhadpa poligami, dsb.

Preferensi terhadap poligami patut untuk diteliti karena ini menunjukkan secara jelas bagaimana para dai mengamalkan ajaran agama. Afwan…. Ana sangat ingin melihat apakah para dai ini setuju dan berani mengikuti poligaminya Aa Gym. Dai yang berani poligami adalah mereka yang mempunyai keyakinan bahwa mereka adil dan mampu menyeimbangkan keyakinan dan kesenangan dakwah. Seperti halnya para murobbi dan qiyadah PKS yang mau, mampu dan berani berpoligami.

Sebagai penutup, Ana kembali menegaskan bahwa multikulturalisme akan membawa kehancuran pada gerakan dakwah kita. Apa Antum mau bertetangga dengan orang Nasrani yang tiap minggu bernyanyi dengan keras-keras, sambil membagi mie-mie ke tetangga-tetangga kita yang miskin?

Filed under: Adian Husaini , , , , , , , ,

Ana adalah pendukung berat dari akhi drh. Adian Husaini, M.A, kandidat doktor di ISTAC Universitas Islam Internasional Malaysia. Akhi Adian adalah ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan aktivis di INSISTS, yang aktif mengadvokasi kristenisasi, salibisasi, dan menentang konspirasi global kapitalis Amerika nan kafir dengan Zionis Yahudi Israel. Akhi Adian Husaini mempunyai kolom tetap di www.hidayatullah.com yang secara kreatif dan advokatif mengungkap berbagai konspirasi Yahudi di Indonesia dan dunia.

 

November 2009
M T W T F S S
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Klik tertinggi

  • None