
Sekali lagi, tahniah buat akhi Adian Husaini, M.A, kandidat doktor di ISTAC Malaysia yang berhasil mengupas tuntas tragedi keilmuan di UIN Jakarta karena menganugerahkan gelar doktor ke aktivis SEPILIS Abdul Moqsith Gozali.
Tanggapan lengkap akhi Adian ada di http://adianhusaini.blogspot.com/2008/02/tragedi-keilmuan-di-uin-jakarta.html
Akhi Adian secara jenial berhasil membuka kedok UIN, institusi Islam yang berusaha menghancurkan Islam dari dalam, mengaku mengajarkan Islam, tetapi yang diajarkan adalah dekonstruksi syariah, fikih, dll, seperti halnya tukang batu mendekonstruksi bangunan tua untuk dibangun mall.
Akhi Adian menyimpulkan bahwa para guru besar UIN Jakarta telah lalai meloloskan Abdul Moqsith dalam sidang terbuka promosi doktornya:
Yang jelas, menurut saya, kasus disertasi ini merupakan suatu ”Tragedi Keilmuan” di UIN Jakarta. Apa yang bathil, sesat, dan keliru, dilegitimasi oleh sejumlah guru besar bidang agama. Lebih merupakan tragedi dan musibah lagi bagi umat ini, jika para doktor dan pakar-pakar Al-Quran yang berjubel di UIN Jakarta hanya berdiam diri dan ”bengong saja” menghadapi kasus semacam ini.
Ana hanya ingin mengangkat satu tulisan dari Farish Noor, orang Malaysia yang mengajar di UIN Yogyakarta, saudara kembar ideologi SEPILIS UIN Jakarta. http://www.othermalaysia.org/content/view/79/53/
Ana sebagai orang yang mengagumi akhi Adian yang sedang mengejar doktor di ISTAC Malaysia , tentu tidak terima kalau Farish Noor bilang UIN di Indonesia kualitasnya lebih baik dari universitas di Malaysia. Kalau memang kualitasnya lebih baik, buat apa akhi Adian sekolah ke Malaysia, ke Ciputat atau Yogya saja!
Farish Noor bilang dia kagum dengan mahasiswa UIN yang mampu mengkaji fenomena relijiusitas dengan teori-teori kafir Barat, bahkan menafsirkan kitab suci kita seenaknya diri dengan metode hermeneutika.
Farish Noor bilang lagi kalau yang bikin dia tambah kagum, mereka ini, mahasiswa UIN, adalah practising muslim, orang-orang yang teguh beriman, tapi tetap menjaga kekritisannya yang katanya “rational, modernist, pragmatic”.
ANA TIDAK TERIMA!!!
Apalagi Farish Noor terus menerus memuji Amin Abdullah, yang katanya adalah pembaru pendidikan tinggi Islam di Indonesia, sehingga UINs is not in the same lague with their Malaysian, Pakistani, Arabs, counterparts.
Masak UIN dibilang lebih baik dari Malaysia!!!
Jadi, Ana kembali menghimbau kalau ada ikhwan dan akhwat mau sekolah lagi, jangan ke UIN! Kalau ke UIN, belajarnya tidak beda jauh dengan belajar di UGM, UI, dll.
Lebih baik kita ekspor mahasiswa kita ke Malaysia, tidak hanya TKI!
Filed under: Adian Husaini , abdul moqsith, Adian Husaini, doktor, JIL, UIN
Alhamdulillah, masih banyak mukmin yang bertaqwa dan intelektual sehingga bisa membuka kedok munafikin dan penghancur agama.
Bersatulah ummat Islam!
ingat sejarah, Nabi Muhammad dulu juga dicaci oleh Abu Jahal!
Kalau ke UIN, belajarnya tidak beda jauh dengan belajar di UGM, UI, dll.
Trus kenapa jangan kuliah di UIN??!
Kan belajarnya tidak beda jauh dengan belajar di UGM, UI, dll.
awas awas… promosi tempat kuliah berkedok agama nih…
jangan gampang terbujuk, siapapun yg mengatakan, apapun yg dikatakan, kalo tak ada parameter yg jelas… ‘anjing menggonggong, kafilah berlalu..’