Daripada dekonstruksi melulu, lebih baik konstruksi rumah!

Alhamdulliah. Akhi Adian Husaini, M.A kembali melakkan advokasi terhadap kegiatan penggiat SEPILIS (Sekularis, Pluralis, Liberalis), yang membuat tulisan dengan melakukan kuotasi yang sembarangan terhadap Buya Hamka, sastrawan dan ulama besar, serta mantan ketua MUI.
Dalam tulisannya yang berjudul “Jangan Memfitnah Buya HAMKA” http://adianhusaini.blogspot.com/2008/01/jangan-menfitnah-buya-hamka.html , akhi Adian Husaini dengan cerdas menguliti beberapa pendapat kaum SEPILIS yang patut diduga menderita SIPILIS. Dengan bekas gunting sunatnya, drh. Adian Husaini, M.A tentu dengan sigap akan menyunat para SEPILIS yang SIPILIS ini.
Beberapa pokok pikiran yang digugat oleh akhi Adian adalah:
- Tulisan “Mengapa Membumikan Kemajemukan dan Kebebasan Beragama di Indonesia?” dari Muhammad Ali, dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Jakarta dan kandidat doktor di Hawaii. Ali menulis: ”Al-Qur’an juga menjelaskan dalam banyak ayat-ayatnya adanya persaudaraan hanafiyyah samhah dan persaudaraan kemanusiaan. Dalam konsep al-Qur’an, penganut agama Yahudi, Kristen, dan Islam adalah saudara seiman dan sebapak, Ibrahim, meskipun mereka saling berselisih dalam sejarahnya. Agama-agama mereka adalah satu dan berasal dari satu Tuhan. Lebih luas lagi bahkan, selain Yahudi dan Kristen, Islam juga bersaudara dengan seluruh penganut keberagamaan yang benar, yang tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan. Tuhan menurunkan ratusan ribu nabi-nabi dan rasul-rasul yang tidak diceritakan siapa mereka. Karenanya tidak ada alasan untuk mengafirkan dan mengutuk masuk neraka Konfusianisme, Buddha, Mirza Ghulam Ahmad, dan penganut-penganut keyakinan lainnya. Apalagi al-Quran juga menjelaskan, tidak ada perbedaan antar para nabi dan perbedaan dan perselisihan antar-umat beragama harus diserahkan kepada Tuhan saja.” (hal. 256).
- Tulisan”Islam dan Pluralisme di Indonesia: Pandangan Sejarah”, ditulis oleh Ayang Utriza NWAY, seorang alumnus Fakultas Syariah UIN Jakarta, yang menyelesaikan masternya di Paris. Tulisannya berisi: ”Buya Hamka dengan sangat mengagumkan menafsirkan ayat ini. Ia menulis ”Kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dan dunia ini [...]. Ayat ini sudah jelas menganjurkan persatuan agama, jangan agama dipertahankan sebagai golongan, melainkan hendaklah selalu menyiapkan jiwa mencari dengan otak dingin, manakah dia hakikat kebenaran. Iman kepada Allah dan Hari Akhirat, diikuti amal saleh. Kita tidak akan bertemu suatu ayat yang begini penuh dengan toleransi dan lapang dada, hanyalah dalam al-Qur’an. Suatu hal yang amat perlu dalam dunia modern.” Lebih jauh Buya Hamka mengutip hadits yang diriwayatkan dari Ibn Abi Hatim dari Salman al-Farisi yang bertanya kepada Rasulullah tentang agama mana yang paling benar dari semua agama yang pernah dimasuki olehnya: Majusi, Nasrani, dan Islam. Rasulullah menjawab dengan QS 2:62 tersebut.” (hal. 306-307). Lalu, penulis yang juga peneliti di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Universitas Paramadina ini, mengutip pendapat Hamka yang tidak setuju dengan pendapat Ibn Abbas bahwa QS 2:62 itu sudah dinasakh oleh QS 3:85. ”Buya Hamka menyatakan: ”Kalau dikatakan bahwa ayat ini dinasikhkan (dihapus) oleh ayat 85 surat Ali Imran itu, yang akan tumbuh ialah fanatik; mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk dia saja [...].
Seperti biasa, ana taqlid dengan pendapat akhiAdian Husaini, kandidat doktor di ISTAC Malaysia.
Btw, beberapa saat yang lalu ana membaca sebuah tulisan busuk dari seorang profesor tamu dari Malaysia di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Seperti kita sudah mahfum, UIN Yogyakarta bersama UIN Jakarta adalah markas besar kaum SEPILIS.
Si profesor yang tidak tahu diuntung itu, Farish Noor, bilang bahwa kualitas UIN/IAIN di Indonesia bahkan sudah melampaui kualitas dan tradisi akademis di Malaysia, Pakista, Mesir, dsb. Alasannya UIN/IAIN menggunakan tradisi akademis Barat, dengna mengunyah teori-teori sosial Barat, sekuler dan kafir untuk menerangkan fenomena keberagaman di Indonesia. Amin Abdullah, Rektor UIN Yogyakarta yang diwawancarainya bilang bahwa UIN tidak hanya mengajarkan norma, tetapi juga pengamalan. UIN tidak hanya mengajarkan menghapalkan ayat, tetapi juga menafsirkan ayat dengan teori sosial modern. UIN membedakan antara mengajarkan agama, tetapi juga meneliti fenomena keberagamaan.
Sungguh sesat orang-orang UIN. Kebenaran sudah tidak perlu diteliti lagi. Laksanakan saja, tanpa banyak cingcong.
Ana ingat tulisan abu Hartono Ahmad Jaiz yang menunjukkan secara detil tentang kesesatan berpikir di UIN dalam bukunya yang sangat terkenal “Ada Pemurtadan di IAIN”. Abu Hartono dengan pandai memperlihatkan kita bahwa sebagai kampus universitas agama Islam, seharusnya UIN/IAIN memberikan pelajaran bagaimana menjadi modin yang baik, shalawat yang merdu, tartil yang membuai, memakai hijab yang tidak menimbulkan gairah bagi ikhwan, serta berpoligami secara adil.
Alih-alih IAIN/UIN malah mengajarkan berpikir bebas, free will a la Mu’tazilah yang diimpor oleh mantan Rektor IAIN Jakarta Prof. Harun Nasution, tafsir model baru yang menyalahi metode tafsir yang sudah berada-abad kita gunakan, dsb.
Apalagi UIN Yogyakarta adalah kampus yang melahirkan para dekonstruktor agama, yang suka sekali berbicara: DEKONSTRUKSI SYARIAH, DEKONSTRUKSI FIKIH, dsb. Pantasnya mahasiswanya jadi tukang batu saja, melakukan dekonstruksi bangunan tua supaya dibangun mall yang jualan kopi Starbucks milik Yahudi Kafir!.
Sebagai penutup, ana minta kepada antum untuk berhati-hati terhadap segala macam fitnahan dari kaum SEPILIS kepada umat Islam. Bubarkan IAIN/UIN yang suka dekonstruksi. Bangun Institut Konstruksi dan Tukang Batu supaya mahasiswanya tidak hanya bicara dekonstruksi saja!
Filed under: Adian Husaini , Adian Husaini, IAIN, poligami, sepilis, UIN
saya pingin kenalan, yg nulis ini kuliahnya dimana sih?