

Jangan Memberhalakan Multikulturalisme
Syukron jazakalla, Ana sangat mendukung tulisan akhi Adian Husaini, M.A, dalam tulisannya di http://adianhusaini.blogspot.com/2008/01/jangan-memberhalakan-multikulturalisme.html
Akhi Adian Husaini memang anak muda Islam yang cemerlang, yang mampu menangkis berbagai serangan kaum SEPILIS (Sekuler, Pluralis, Liberalis) yang biasanya dibungkus oleh tulisan-tulisan ilmiah.
Kita tentu bersyukur bahwa akhi Adian Husaini yang juga kandidat doktor di ISTAC Universitas Islam Internasional Malaysia mampu menandingi propaganda kaum SEPILIS yang banyak berpendidikan barat. Akhi Adian yang dokter hewan, tentu sangat paham dengan penyakit SIPILS yang bersaudara dengan SEPILIS. Kalau Uli sang panglima SEPILS pulang ke Indonesia setelah sekolah di universitas sekuler dibiayai duitnya Bush ngedebush, maka akhi Adian tentu akan menyiapkan gunting sunat kucing yang biasa dipakainya mengebiri kucing yang suka kawin seenaknya, bikin anak disana-sini tanpa mempedulikan istrinya yang sah di rumah. Kucing-kucing harusnya diberi pelajaran poligami oleh akhi almukarrom Puspo Wardoyo, bagaimana melakukan poligami yang sesuai syariat.
Kita tidak perlu kecil hati dan merasa rendah diri dengan pendidikan kita. Pendidikan di Malaysia, seperti halnya akhi Adian Husaini, Pakistan, Mesir, apalagi Universitas Al Azhar yang merupakan salah satu universitas tertua di dunia, tidak kalah dengan produk keluaran McGill University dan universitas di barat lainnya yang banyak menelurkan penggiat SEPILIS.
Apalagi dengan universitas di Ankara, Turki, sekolahnya Amin Abdullah, rektor UIN (Universitas Inkarus Nabi) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Amin Abdullah lah yang bertanggung jawab atas penyebaran metode tafsir hermeneutika di IAIN/UIN seluruh Indonesia. Masak kitab suci kita disamakan dengan buku sastra!
Karena itu, Ana ingin membahas beberapa pokok pikiran akhi Adian Husaini dalam tulisannya “Jangan Memberhalakan Multikulturalisme”.
Akhi Adian menulis:
- Badan Litbang Departemen Agama mengumumkan hasil penelitiannya tentang “Pemahaman Nilai-nilai Multikultural Para Da’i”. Balitbang Depag, Atho Mudzhar, menyatakan bahwa selain dapat menjadi faktor integrasi, agama juga dapat menjadi faktor dis-integrasi. Agama sebagai faktor disintegrasi bangsa Indonesia, dapat dilihat pada terjadinya konflik keagamaan – bahkan sampai saat ini – di beberapa daerah di Indonesia
- Mereka memakai berbagai ukuran yang aneh untuk mengukur multikulturalisme, seperti percaya bahwa ada agama lain yang merupakan agama samawi dan meyakini bahwa Yahudi dan Kristen sekarang ini adalah ahlul kitab, perasaan kurang nyaman bertetangga dengan orang yang berbeda agama, perlunya UU Penyiaran Agama untuk mengurangi konflik antar umat beragama, penerimaan terhadap perkawinan berbeda agama, penerimaan terhadap orang yang berbeda agama untuk mengajar anak di sekolah, penerimaan terhadap orang yang berbeda agama dalam melakukan kegiatan di daerah Muslim,) penerimaan terhadap orang yang berbeda agama untuk membangun rumah ibadah di daerah Muslim.
- Sebagai penutup, akhi Adian Husaini menyimpulkan bahwa seyogyanya para peneliti tidak terburu-buru menerima begitu saja paham-paham baru – seperti Multikulturalisme – tanpa menilainya dengan standar pandangan hidup Islam (Islamic worldview). Menyimak indikator-indikator yang digunakan untuk meneliti tingkat ”kemultikulturalan” seorang dai, tampak jelas, paham ini memang justru bermasalah. Jadi, semestinya Islam-lah yang menilai paham Multikulturalisme. Bukan sebaliknya, Islam dan kaum Muslim justru dinilai dengan kacamata Multikulturalisme. Wallahu a’lam.
Ana setuju, taqlid 100% pada pendapat akhi Adian Husaini. Bagiamanapun Departemen Agama sekarang dipenuhi oleh birokrat-birokrat jebolah IAIN (Ingkar Allah Ingkar Nabi). Mereka seharusnya belajar agama, tetapi akhirnya menguliti agama dengan berbagai teori-teori sosial dari Barat, yang diciptakan oleh non muslim, orientalis Yahudi dan Kristen. Ini menunjukkan bahwa Depag yang seharusnya menjadi patron umat Islam dalam melaksanakan kehidupan beragama malah menjadi korban GHAZWUL FIKR, perang pemikiran atau ideologi dari Barat.
Tidakkah para peneliti Depag ini melihat bahwa penghormatan terhadap multikulturalisme di Barat ini menyebabkan dekadensi moral mereka? Tobatlah wahai birokrat Depag!
Para dai tidaklah layak untuk diteliti tingkat multikulturalisme mereka. Seharusnya yang diteliti adalah bagaimana pandangan mereka terhadpa poligami, dsb.
Preferensi terhadap poligami patut untuk diteliti karena ini menunjukkan secara jelas bagaimana para dai mengamalkan ajaran agama. Afwan…. Ana sangat ingin melihat apakah para dai ini setuju dan berani mengikuti poligaminya Aa Gym. Dai yang berani poligami adalah mereka yang mempunyai keyakinan bahwa mereka adil dan mampu menyeimbangkan keyakinan dan kesenangan dakwah. Seperti halnya para murobbi dan qiyadah PKS yang mau, mampu dan berani berpoligami.
Sebagai penutup, Ana kembali menegaskan bahwa multikulturalisme akan membawa kehancuran pada gerakan dakwah kita. Apa Antum mau bertetangga dengan orang Nasrani yang tiap minggu bernyanyi dengan keras-keras, sambil membagi mie-mie ke tetangga-tetangga kita yang miskin?
Filed under: Adian Husaini , Adian Husaini, Amin Abdullah, depag, IAIN, multikulturalisme, poligami, sepilis, UIN
Berbicaralah tentang cinta, kasih, dan toleransi, jangan kotbah tentang kebencian. Sudah terlalu lama kita menderita karena kotbah yang berisi kebencian.
Goblog bin bego…kamu, Afwan Jiddan itu bahasa Arab dari mana Dul..
Untuk Antum, pendukung membabi-buta akhi Adian Husaini,
Sungguh cara Anda mengumpat kelompok yang tak antum suka dengan sebutan “sepilis” atau menyamakan dengan “kucing” itu mengingatkan saya pada cara-cara PKI dulu dalam menyerang lawan-lawan politik, misalnya dengan sebutan “kabir” (kapitalis birokrat), manikebu (menifesto kebudayaan), tujuh setan desa, ganyang, dst. Kalau Antum berniat dakwah, berdakwahlah dengan santun, ya akhi… seperti digariskan Allah, ud’u ila sabili rabbika bil hikmah wal maw’idhotil hasanah wa jadilhum billati hiya AHSAN!
Celakanya, antum memang menolak memberhalakan multikulturalisme. Tapi, antum jelas-jelas memberhalakan akhina Adian Husaini dengan bilang “ana taqlid 100%” padanya. Bila pakai term rutin Anda saat menuduh kelompok lain dengan term “sesat” atau “menyesatkan”, maka sesungguhnya entelah yang sesungguhnya tengah melakukan kesesatan yang nyata dengan menuhankan seorang manusia bernama Adian Husaini. Allahu Akbar!
berpikirlah sebelum Saudara berbicara.. bukankah Rosul kita mengajarkan demikian? Anda menjelaskan tentang nilai-nilai Islam, tapi kenapa Anda juga menggunakan cara yang dibenci Islam, kebencian.
Anda berbicara masalah Islam, tapi anda koq seperti itu…
setahu saya yang bodoh, Nabi Muhammad sangat menghargai pendapat orang lain, meskipun pendapat itu keluar dari manusia yang jelas-jelas kurang mempunyai pengetahuan…tapi anda koq….
Islam benar lahir di Arab, tapi bukan berarti segala yang berbau Arab itu Islam…
bukankah Firman Tuhan juga mengatak bahwa kita diciptakan bersuku-suku, agar kita bisa saling mengenal? setelah mengenal, bukankah kita juga diajarkan untuk menghargai perbedaan?
ulama-ulam terdahulu tidak pernah merasa di hina ketika muridnya berbeda pendapat, mendirikan golonngan baru….
bukankah 4 madzhab yang umum kita kenal mereka adalah mempunyai hubungan Guru dan Murid?
mari kita berdebat dengan kepala dingin,dengan menghargai orang lain…
kita punya hak untuk berpendapat, begitu juga mereka…
hak kita dibatasi oleh hak mereka…
mohon maaf kalau ada ungkapan yang (barangkali anda sebut) “menyesatkan…”
JANG BERHALAKAN JUGA ADIAN HUSAINI?
Saya pikir ini upaya untuk memfitnah Adian Husaini saja dgn berpura2 sbgi pendukungnya. Saya tidak mau terjebak. Sorry ya?